Thursday, February 9, 2017
Mekanisme Pasar Bebek
February 09, 2017
Motivasi
Mekanisme Pasar Bebek
Oleh : Gandi Margono
Harga jual telur itik dan daging itik saat ini kembali menuju kelevel yang rendah yang tentu saja berdampak buruk untuk kesejahteraan peternak. Harga jual telur itik berada jauh dibawah harga keekonomisan sebutir telur itik sehingga pemeliharaan itik petelur untuk kondisi saat ini bukanlah merupakan sebuah usaha yang menguntungkan. Setali tiga uang juga dengan nasib peternak itik pedaging lokal yang sejak dahulu pun sulit untuk meraih harga yang pantas sehingga pemeliharaan itik pedaging pun sulit untuk disebut sebagai sebuah usaha yang menguntungkan.
Disaat harga seperti sekarang sangatlah wajar banyak peternak yang menganalisa sebab musabab terjadinya bahkan tidak jarang sampai menyalahkan kawan lainnya. Peternak menyalahkan bakul, bakul menyalahkan supplier pakan, dan lain sebagainya atau bahkan ada yang sampai mengumpat kepada pemerintah yang disebut sebagai pihak yang mengakibatkan keadaan sampai seperti ini...Betulkah harus ada yang jadi kambing hitam?
Sejatinya harga telur dan daging itik hanyalah mengikuti mekanisme pasar...Mekanisme pasar adalah suatu proses penentuan tingkat harga berdasarkan dari kekuatan permintaan dan penawaran. Definisi mekanisme pasar yang lainnya yaitu kecenderungan dalam pasar bebas untuk terjadinya perubahan dari harga hingga pasar menjadi seimbang (jumlah yang penawaran sama dengan jumlah permintaan) ( wikipedia )..Yang dapat kita terjemahkan secara sederhana menjadi sebab harga telur dan daging itik murah adalah sebagai akibat dari banyaknya stock telur dan daging bebek sedangkan permintaan tetap/sedikit.
Mengapa banyak stock telur dan daging bebek? selain karena faktor pasar bebas ASEAN yang memungkinkan impor telur dan daging bebek dari luar negeri, juga satu hal yang pasti adalah karena banyaknya pertumbuhan peternak bebek di Indonesia terutama di pulau Jawa. Hal inilah yang kadang disikapi oleh pemain lama dengan memberikan informasi yang menyesatkan dan menyembunyikan informasi yang sesungguhnya sehingga pemain baru kapok terjun dibisnis ini. Dengan tidak adanya pemain baru maka pasokan akan stabil sehingga harga jual cenderung stabil atau bahkan meningkat....
Prinsip menjatuhkan pesaing tersebut mirip dengan yang dilakukan anak bangau dialam liar untuk bertahan hidup...
Induk bangau biasa memiliki 2 atau 3 butir telur untuk dierami induknya, Saat telur-telur menetas, anak bangau yang lebih dahulu lahir biasanya memiliki tubuh yang lebih besar dan kuat bila dibandingkan saudaranya yang lahir kemudian. Bayi bangau pada saat tersebut belumlah dapat terbang dan mencari makan sendiri sampai bulu-bulunya tertutup sempurna sehingga sangat bergantung pada asupan pakan dari induknya.. Anak bangau yang lebih dulu lahir ini juga memiliki kesadaran bahwa tidak ada cukup pakan dari sang induk jika harus berbagi dengan adik-adiknya. Apa yang kemudian dilakukan oleh anak bangau yang kuat tersebut?
Dia menendang adik-adiknya jatuh dari sarang sehingga menjadi santapan buaya ataupun hewan pemangsa lain dibawah!...haruskah kita meniru bangau tersebut?
Mekanisme pasar merupakan hal yang sulit untuk dilawan bahkan oleh pemerintah sekalipun. Sebagai contoh misalkan pemerintah mematok harga sebutir telur itik Rp. 3.000,- tetap saja akan ada yang menjual telur dibawah harga tersebut jika stock telur melimpah dan pada akhirnya harga telur akan kembali ke mekanisme pasar. Jika pemerintah saja sulit untuk melawan mekanisme pasar apalagi kita dengan keuangan yang terbatas..Lalu apa yang harus kita lakukan?
Beberapa hal yang dapat kita lakukan adalah :
1. Membuat pakan murah atau bahkan mengangon itik kita.
Menekan ongkos produksi telur atau daging bebek adalah solusi terbaik untuk kita bertahan. Semakin murah pakan kita atau bahkan gratis, maka semakin besar potensi keuntungan kita karena pakan merupakan pengeluaran terbesar dalam bisnis itik setelah investasi. Pakan murah setiap daerah bisa jadi berbeda sehingga kecakapan kita dalam menemukan dan meramunya menjadi pakan itik merupakan keuntungan tersendiri.
2. Membuat harga kontrak tetap dengan pengepul telur/daging bebek.
Saat ini sudah banyak pengepul yang mau menerima telur/daging bebek dengan sistem kontrak harga tetap dengan suplay yang tetap juga. Harga tetap sesuai kesepakatan sangat membantu peternak bila telur dan daging bebek sedang melimpah. Unntuk peternak baru sebaiknya mencari kontrak tetap dahulu sebelum beternak itik agar tidak sulit dalam menjual produknya.
3. Menjadi agen/penyalur/broker/pengepul.
Walaupun dibutuhkan kecakapan dan modal yang cukup besar, menjadi pengepul relatif lebih "aman" dalam hal harga. Pengepul tinggal menyesuaikan harga beli/jual dengan mekanisme pasar tanpa perlu dipusingkan berapapun nilainya. Tentu saja untuk jadi pengepul diperlukan juga pelanggan tetap yang loyal kepada kita.
4.. Menjual produk berkualitas.
Sudah lazim setiap tingkatan kualitas produk akan memiliki harga yang berbeda sehingga kualitas suatu barang ikut menentukan harganya. Walaupun banyak produk sejenis, produk dengan kualitas yang tinggi tetap akan dicari oleh pembeli yang mementingkan standar kualitas produk semisal hotel, restoran ataupun kafe. Telur dengan kuning telur merah organik akan memiliki harga jual yang berbeda dengan telur biasa, begitu juga dengan daging bebek rendah kolesterol akan memiliki pangsa pasar tersendiri.
5. Menjual produk yang sedang laku/trend/booming.
Produk yang sedang "trend" akan lebih dicari oleh pembeli jika dibandingkan dengan produk umum, Membuat suatu produk dari biasa menjadi berbeda juga akan menyebabkan nilai jual yang berbeda. Trend produk dapat kita tiru dari yang sudah ada ataupun kita upayakan sendiri agar produk kita menjadi trendsetter/terkenal. Beberapa contoh produk yang cukup trend adalah : telur asin asap, saus kuning telur, kuning telur frozen, daging bebek organik, dan daging bebek frozen/beku.
Demikianlah beberapa contoh hal yang dapat kita lakukan untuk menyikapi mekanisme pasar tanpa harus meniru tingkah laku kejam anak bangau dialam liar...hehehe
Salam wek wek
<()
( )
( 2)
^^

0 komentar:
Post a Comment